Oleh: griyaibu | 23 November 2009

duniatanpasuara

aktivitas saya yang banyak saya habiskan di toko, toko kami berada di sebuah pasar modern di pusat kota Bandar Lampung yang memiliki nama Simpur Center. membuat saya sering memperhatikan orang-orang disekitar saya, dan dari memperhatikan mereka, ada pelajaran kehidupan yang saya peroleh.

kira-kira begini, saya tertarik ketika ada serombongan (maksud saya lebih dari satu, bisa dua atau tiga orang bahkan lebih) pemuda-pemudi yang bergaya modern, fashion yang up to date, gaya rambut yang oke punya, gadget yang canggih dan tentunya tampang yang bersih. ketika melihat mereka, saya jadi merasa ketinggalan jaman alias tidak bisa mengikuti tren anak muda era globalisasi. karena menurut saya, berpenampilan oke, trendy itu berbanding lurus dengan pengeluaran yang tidak sedikit…hehehe..(bukan, bukan karena kata teman saya, semua tergantung orangnya…kalau orangnya cantik, ganteng, body oke pakai apa saja biarpun murah pasti kelihatan keren hahaha..)

tetapi lain lagi dengan serombongan (lagi) pemuda-pemudi yang hampir memiliki gaya yang sama dengan serombongan pemuda-pemudi yang pertama, tetapi ketika saya perhatikan lebih jauh ternyata mereka memiliki keterbatasan dalam komunikasi mereka (maaf, mereka bisu). Saya menyebut mereka KOMUNITAS DUNIA TANPA SUARA. saya sungguh takjub akan kebesaran Sang Khalik, mereka tidak bisa bicara tapi bisa berkomunikasi, saya sering memperhatikan mereka berdiskusi, berdebat, bercanda, saling melempar humor, berkomunikasi via handphone dengan fitur video converence (terimakasih teknologi), yang terakhir saya lihat mereka bertengkar, tapi semua itu dilakukan dengan diam, hanya tangan yang “bicara”. terus terang, hal ini membuat saya selalu bersyukur kepada Sang Khalik, bersyukur karena mereka tetap dipelihara kehidupannya oleh Sang Khalik, bersyukur kepada Sang khalik atas sang pencipta bahasa isyarat, bersyukur kepada Sang Khalik karena mereka tidak perlu malu memiliki keterbatasan itu, bersyukur kepada Sang Khalik karena mereka tetap berkembang tetap berkarya dalam keterbatasan itu….

yang lebih membuat saya bersyukur kepada Sang Khalik karena saya tidak perlu berbicara dengan gaya bahasa mereka. Dari KOMUNITAS DUNIA TANPA SUARA, saya belajar mengucap syukur dengan apa yang ada pada diri saya. saya jadi ingat petikan sebuah kalimat “bersyukurlah dalam segala hal…”

semoga memberi inspirasi.


Responses

  1. Didekat rumah Cik Fenny,ada juga komunitas tanpa suara…takjub aku melihatnya lho Dhon..

    • kapan-kapan aku ceritakan lagi yang lain, mungkin akan kukasih judul….”dunia itu indah…andai kita bisa melihatnya”


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: